Mengatasi Krisis Air: Peran Konservasi Hulu dalam Peningkatan Layanan Daerah Aliran Sungai

Isu kelangkaan air, atau yang lebih dikenal sebagai Mengatasi Krisis Air, kini telah bergeser dari ancaman hipotetis menjadi kenyataan yang dialami jutaan penduduk, terutama di kawasan padat Pulau Jawa. Indonesia, meskipun dikenal sebagai negara kepulauan dengan curah hujan tinggi, menghadapi anomali serius: banjir di musim hujan dan kekeringan ekstrem di musim kemarau. Akar dari permasalahan ini seringkali bermula di daerah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), yang perannya sebagai ‘penampung air alami’ semakin terdegradasi. Oleh karena itu, kunci untuk peningkatan layanan DAS dan Mengatasi Krisis Air di wilayah hilir adalah fokus total pada konservasi yang terintegrasi dan berkelanjutan di wilayah hulu. Program konservasi ini harus menjadi prioritas nasional, menggeser fokus dari reaktif terhadap bencana menjadi preventif terhadap penyebabnya.

Peran ekosistem hulu sangat vital karena ia berfungsi sebagai regulator hidrologi. Hutan di hulu bertindak seperti spons raksasa yang menyerap air hujan, menyaringnya, dan melepaskannya secara bertahap ke sungai dan sumber air tanah. Namun, alih fungsi lahan yang masif untuk pertanian, permukiman, atau perkebunan monokultur telah menghilangkan fungsi alami ini. Data dari Forest Watch Indonesia (FWI) menunjukkan bahwa deforestasi di hulu DAS Ciliwung, Cisadane, dan Kali Bekasi mencapai 310 hektare antara tahun 2017 hingga 2024. Kerusakan ini setara dengan ratusan kali luas lapangan sepak bola dan menyebabkan peningkatan drastis limpasan air permukaan, yang berujung pada bencana banjir bandang di hilir. Di DAS Brantas, sebagai contoh lain, hilangnya tutupan hutan dan konversi lahan di Kota Batu dilaporkan menyebabkan laju erosi meningkat hingga 300% dan berkurangnya mata air dari 109 menjadi tersisa 57 saja. Fenomena ini semakin mempersulit upaya Mengatasi Krisis Air yang terus mengancam pasokan air baku bagi kota-kota besar.

Untuk Mengatasi Krisis Air ini, strategi konservasi hulu harus melibatkan kombinasi tindakan vegetatif dan mekanik, didukung oleh regulasi yang ketat. Secara vegetatif, program reboisasi dan wanatani (agroforestri) adalah kunci. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sendiri telah menargetkan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) seluas ratusan ribu hektare dalam rencana jangka menengah. Komitmen ini harus dilaksanakan di lapangan, terutama di lahan-lahan dengan kemiringan ekstrem yang telah beralih fungsi menjadi tanaman semusim. Secara mekanik, pembangunan infrastruktur konservasi tanah dan air (KTA) berskala kecil juga tidak kalah penting. Ini mencakup pembuatan dam penahan (cekdam), embung air, dan terasering yang berfungsi memperlambat laju air, memaksimalkan infiltrasi, dan mencegah erosi tanah. Sebagai contoh implementasi, Badan Pelaksana Konservasi (BPK) DAS Serayu Opak Progo di Jawa Tengah, pada triwulan kedua tahun 2025 (sekitar Mei-Juni), telah menyelesaikan pembangunan 25 unit cekdam dan 40 unit sumur resapan komunal di area hulu untuk menstabilkan debit air.

Peningkatan layanan DAS melalui konservasi hulu tidak dapat berdiri sendiri; ia membutuhkan sinergi dan kolaborasi multipihak. Pihak kepolisian dan aparat penegak hukum juga memiliki peran dalam menindak tegas praktik penebangan liar dan alih fungsi lahan ilegal yang menjadi biang kerok deforestasi di hulu. Selain itu, pemberdayaan masyarakat lokal melalui program Konservasi Terpadu bertujuan untuk mengubah pola pikir dari eksploitasi menjadi pelestarian. Melalui program ini, masyarakat diberikan pengetahuan dan keterampilan mengenai budidaya pertanian yang ramah lingkungan, seperti metode tumpang sari yang tetap produktif namun sekaligus berfungsi konservasi. Dengan demikian, peningkatan layanan DAS di daerah hulu bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa fungsi alamiah sungai pulih, bencana dapat diminimalisir, dan ketersediaan air bersih bagi generasi mendatang dapat terjamin, sehingga Indonesia berhasil Mengatasi Krisis Air secara holistik.

We are Malawi Watershed Services Improvement Project (MWASIP). 

Links

Contact

Area 3 Roundabout, Opposite Town Hall, Veterinary Head Office Premises

Send us message

Please feel free to contact us on any topic, we would be delighted to respond on the work we are doing

© Copyright 2022. Malawi Watershed Services Improvement Project (MWASIP)